Lanza Bunuh Ibunya Lalu Tembak Mati 26 Orang Lainnya !

 

Identitas pelaku pembantaian yang menewaskan 26 orang di sebuah sekolah dasar di Newtown, Connecticut, AS, Jumat (14/12) mulai jelas. Pelaku dilaporkan bernama Adam Lanza dan berusia 20 tahun.

Lanza membunuh ibunya sendiri yang adalah seorang guru di rumahnya di Newtown, Connecticut, lalu mengendarai mobil ibunya itu ke Sekolah Dasar Sandy Hook, tempat ibunya mengajar dan membantai 26 orang, termasuk 20 anak, sebelum akhirnya menembak dirinya sendiri. Dengan demikian, total korban tewas dalam tragedi penembakan massal di AS itu 28 orang.

Juru Bicara Polisi Negara Bagian Connecticut, Letnan Paul Vance, mengatakan bahwa 18 anak tewas ditembak di dalam sekolah dan dua lagi meninggal akibat luka mereka di rumah sakit. Enam orang lainnya adalah guru dan karyawan sekolah, termasuk kepala sekolah.

Vance menjelaskan, hampir tidak ada korban cedera yang tidak tewas. Hal itu menunjukkan bahwa begitu korban menjadi sasaran, nyaris tak ada kesempatan untuk melarikan diri, dan bahwa Lanza luar biasa akurat atau metodis dalam menembak.

Vance mengatakan, hanya satu orang "yang mengalami cedera dan selamat." Pembunuhan massal itu, yang dimulai sekitar pukul 09.30 waktu setempat, "berlangsung di salah satu bagian dari sekolah, di dua ruangan," Menurut Vance, hal itu menunjukkan bahwa para korban yang merupakan anak-anak itu terjebak dan ditembak mati.

Lanza membawa sebuah senapan dan dua pistol saat memasuki sekolah dasar itu. Para saksi mata mengatakan, pemuda itu pergi dari ruangan ke ruangan dan menembak orang-orang setelah terlebih dahulu membunuh kepala sekolah dan kemudian pergi ke kelas TK ibunya.

Ada laporan yang berbeda tentang kematian ibunya. Ada laporan yang menyebutkan bahwa ibunya tewas di ruangan kelasnya sementara yang tewas di rumah keluarga Lanza adalah ayahnya. Belum ada konfirmasi terkait hal itu.

Kakak Lanza, Ryan Lanza (24 tahun), yang awalnya diduga sebagai pelaku pembantaian, kini ditanyai polisi setelah ditangkap di rumahnya di Hoboken, New Jersey. Dia berada di sebuah bus dalam perjalanan pulang dari kantor ketika ia disebut sebagai pelaku. Ia kemudian mem-posting di Facebook bahwa itu bukan dia. Dia mengatakan kepada seorang teman bahwa dia yakin, adiknya yang cacat mental telah melakukan hal itu.

Televisi NBC melaporkan, polisi sempat bingung karena mereka menyangka pelaku bernama Ryan Lanza karena pelaku mengenakan kartu identitas atas nama Ryan Lanza ketika datang ke sekolah itu.

NEW YORK, KOMPAS.com — Adam Lanza (20), pelaku pembantaian di SD Sandy Hook, bagi teman-temannya, dikenal sebagai sosok pemalu, minder, tetapi pintar. Rasa malunya ini membuat dia juga tidak memiliki Facebook atau jejaring sosial lainnya.

Dalam kenangan teman-temannya, wajahnya selalu terlihat pucat, tubuh yang tinggi, dan kurus kering. Jalannya terlihat kaku dengan tangan selalu di sisi badannya.

Namun, image tentang Adam Lanza yang pemalu dan kaku itu hilang setelah Jumat (14/12/2012) waktu setempat dia diketahui menembaki siswa Sekolah Dasar Sandy Hook di Negara Bagian Connecticut. Dengan berbekal dua pistol dan senapan otomatis, dia membunuh 20 siswa dan enam orang dewasa di sekolah tempat ibunya mengajar itu. Setelah itu, dia bunuh diri.

Dalam masa remajanya yang singkat itu, Adam hanya meninggalkan sedikit yang bisa diingat. Dia tidak memiliki Facebook, bahkan fotonya tak terpajang di buku tahunan angkatan 2010 SMA-nya. Hanya ada tulisan Camera shy dalam kotak yang seharusnya memajang foto Adam Lanza. Bahkan, beberapa temannya tak yakin bahwa dia lulus dari sekolah tersebut.

Matt Baier, teman sekolah Adam yang sekarang mahasiswa pertama di University of Connecticut, mengingat betapa Adam sangat tidak nyaman dengan pertemanan di sekolah.

Beberapa teman Adam lainnya mengerti bahwa dia mengalami gangguan perkembangan mental, bahkan ada yang menyebutnya menderita sindrom Asperger atau tingkat tertinggi dari autis.

"Dari yang saya lihat, orang-orang membiarkan dia menjadi dirinya sendiri dan memang begitu," kata Baier.

Baier yang duduk di sebelahnya saat pelajaran matematika menceritakan betapa pendiamnya Adam. Meski begitu, dia selalu mendapatkan nilai tertinggi dari pelajaran tersebut.

"Jika melihat dia, kamu tidak akan melihat emosi apa pun di wajahnya," kata mantan teman Adam lainnya.

"Bisa dikatakan bahwa dia merasa tidak nyaman dijadikan pusat perhatian. Mungkin dia tidak mendapatkan penanganan yang tepat. Sepertinya dia menjadi orang yang tidak terlalu dikenal dan orang juga tidak menyadari bahwa seharusnya dia mendapatkan penanganan mental," kata Olivia DeVivo, teman Adam lainnya.

Sepanjang ingatannya, Olivia mengaku tidak pernah melihat Adam berteman, atau bahkan berbicara dengan seseorang. Menurutnya, Adam seperti bukan bagian dari kota Hoboken, New Jersey, tempat tinggal mereka.

Bahkan, seorang teman Randy Lanza, kakak Adam, mengatakan bahwa Randy menyebut adiknya mengalami gangguan mental. Pihak berwajib yang dimintai tanggapannya mengaku akan menyelidiki kemungkinan tersebut.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...