Jangan Percaya Polisi Afrika Selatan ( Gawat ! )


Polisi Afrika SelatanSelayaknya, polisi menjadi tempat berteduh dan berlindung terhadap semua ancaman keamanan. Namun, di Afrika Selatan (Afsel) tampaknya kita harus berpikir, memilah, dan memilih jika harus minta pertolongan kepada polisi.

Setidaknya, itu menjadi pertimbangan tersendiri berkaca pada pernyataan orang setempat. Beberapa wartawan sempat mengeluhkan keamanan di Afsel yang buruk. Secara teoretis, akan lebih mudah jika dekat dengan polisi dan meminta perlindungan kepada mereka jika terjadi ancaman.

Namun, justru orang Afsel menyarankan kami agar tak terlalu percaya kepada polisi. "Don't trust police," kata seorang warga kulit putih asal Pretoria yang tak mau disebut namanya.

Pernyataan yang sama juga dikatakan warga Coloured (campuran) yang berasal dari Cape Town. Seorang bapak berumur 54 tahun yang kini sementara tinggal di Johannesberg itu mengatakan, "Kalian harus lihat-lihat dulu jika mengadu ke polisi."

Ini membuat perasaan para pendatang lebih seram. Sudah tingkat kriminalitas tinggi, kita tak boleh terlalu percaya kepada polisi. Lalu, harus mengadu dan berlindung kepada siapa?

Kurangnya kepercayaan warga Afsel kepada polisi memang sangat terlihat. Klaster-klaster atau perumahan rata-rata menyewa agen keamanan swasta. Biasanya, rumah-rumah, kantor-kantor, atau toko-toko di Afsel ditempeli plakat "ADT". Itu artinya tempat tersebut dalam perlindungan agen keamanan ADT.

"Habis, kalau kita lapor kepada polisi jika terjadi masalah, biasanya mereka datang sangat terlambat. Sementara kalau ADT, kita langsung kontak. Bahkan, ketika pintu kita dirusak paksa, sudah terdeteksi kantor ADT dan mereka akan segera datang untuk mengecek dan melakukan pengamanan," kata seorang ibu rumah tangga di Pretoria.

Pernyataan-pernyataan itu bisa dirasakan. Hari pertama Piala Dunia 2010, di jalan-jalan kota di Afsel nyaris tak terlihat polisi di Fan Fest. Mereka baru muncul setelah acara selesai. Ini tak sebanding dengan tingkat keamanan yang tinggi.

Yang ironis, tiga pemain Yunani bisa menjadi korban pencurian di kamar hotelnya di Durban, Jumat (11 juni 2010). Padahal, sebagai tim peserta Piala Dunia, seharusnya kamar mereka mendapat pengawalan ketat. Wajar jika kadang warga curiga ada oknum polisi yang bermain, setidaknya memberikan informasi kepada penjahat.

Seorang diplomat dari Jepang pernah melapor kepada polisi dan menunjukkan harta yang dia bawa, terutama uang besar. Begitu keluar dari kantor polisi, tak lama dia dirampok dan hartanya ludes. Ini menimbulkan kecurigaan ada yang membocorkan bahwa warga Jepang itu membawa uang besar dan barang-barang berharga.

Setelah tiga pemain Yunani, kamar tim Uruguay juga disatroni maling di Cape Town. Saat mereka bermain melawan Perancis, kamar tim Uruguay dimasuki maling dan uang 12.000 dollar AS melayang.

Pihak Uruguay sempat melapor ke polisi. Namun, polisi kemudian terlalu cepat mengambil keputusan. Menurut polisi, kemungkinan orang dalam di tim Uruguay sendiri terlibat. Pernyataan yang terburu-buru karena belum ada bukti yang diajukan.

"Sangat mungkin orang dalam tim Uruguay sendiri terlibat dalam pencurian itu," kata juru bicara polisi, Leon Engelbrecht, seperti dikutip media.

Mungkin karena itu, Uruguay akhirnya tak meminta kasus itu diteruskan. Sebab, itu akan menghabiskan waktu dan energi, juga mengganggu konsentrasi Uruguay di Piala Dunia. Ketua federasi sepak bola Uruguay, Sebastian Bauza, mengatakan, pihaknya tak mau konsentrasi timnya terganggu. Namun, dia membantah keras bahwa ada anggota tim Uruguay yang terlibat dalam pencurian uang 12.000 dollar AS tersebut.

Para wartawan sempat mengeluhkan soal kriminal kepada polisi, Minggu (13/6/2010). Polisi itu dengan cepat menjawab, "Yang melakukan kriminal bukan orang Afsel. Mereka adalah orang-orang Mozambik dan negara-negara tetangga lain yang datang ke sini." Ia mengatakan itu tanpa memberi bukti.

Melempar batu kepada pihak lain tampaknya menjadi reaksi pertama yang cepat. Yang pasti, siapa pun pelakunya, masalah keamanan adalah tanggung jawab pihak keamanan. Jika terbukti tingkat kriminalitas tinggi, sudah pasti ada kegagalan sistem atau perilaku keamanan.

Bagi masyarakat, yang terpenting bukan siapa para pelaku kriminalnya, tetapi bagaimana keamanan diusahakan sehingga warga merasa terjamin.

Wajar jika ada warga Afsel sendiri yang menganjurkan, "Don't trust the police!"

Sumber : Kompas
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...