Perempuan Saudi Hajar Polisi Agama !


Ketika seorang polisi agama Saudi hendak menanyakan sepasang muda-mudi yang berjalan di taman, dia mendapat kejutan menyakitkan, si pemudi mendadak menyerangnya.

Petugas, dari Komisi Promosi Kebajikan dan Pencegahan Kejahatan, itu menanyakan pasangan itu untuk memastikan identitas serta status hubungan mereka. Pria dan perempuan tidak menikah dilarang berbarengan berduaan berdasarkan aturan Islam Arab Saudi yang ketat.

Harian Jerusalem Post, melaporkan, pemuda yang bersama perempuan itu mendadak ambruk dengan alasan yang belum jelas.

Namun sebelum polisi malang itu dapat berbuat sesuatu, perempuan tersebut, yang diyakini berusia 20-an tahun, menyergap dan menindihnya. Kepala dan tubuh bagian atas polisi itu dihajar berulang kali dalam serangan di timur kota Hofuf Mubarraz itu. Serangan tersebut tergolong parah sehingga petugas itu akhirnya dilarikan ke rumah sakit karena lukanya yang serius.

Polisi agama maupun polisi lokal tidak berkomentar atas insiden yang diberitakan secara luas di media Saudi. Jika perempuan itu dituduh menyerang petugas, ia bisa menghadapi hukuman penjara yang lama, atau hukum cambuk, atau keduanya. Namun opini publik tampaknya berada di belakang perempuan itu.

"Orang-orang sudah muak dengan polisi agama, dan sekarang mereka harus membayar harga atas penghinaan yang mereka lakukan terhadap orang-orang selama bertahun-tahun," kata aktivis hak asasi manusia Saudi, Wajiha Al Huwaidar, kepada kantor berita Media Line. "Melihat resistensi dari seorang wanita banyak maknanya. Ini hanya awal dan akan ada lagi."

Hukum kuno Saudi menegaskan, selain dilarang bersosialisasi dengan pria di depan umum, wanita Saudi juga dilarang mengemudi. Mereka tidak bisa bercerai, memilik hak waris, atau mendapatkan hak asuh atas anak-anaknya. Mereka juga harus didampingi oleh seorang saudara laki-laki di depan umum sepanjang waktu.

Komisi Promosi Kebajikan dan Pencegahan Kejahatan -secara lokal dikenal sebagai Hai'a, bertugas untuk menegakkan hukum-hukum itu. Namun perlawanan terhadap aturan-aturan kaku itu, yang didorong dan diberdayakan internet, telah berkembang dalam beberapa bulan terakhir.

"Ada beberapa bentuk perubahan yang sedang terjadi," kata Nadya Khalife, peneliti hak perempuan Timur Tengah untuk Human Rights Watch, kepada Media Line. "Namun tidak cukup jelas apa yang sedang terjadi dan itu bukan sesuatu yang akan bisa terjadi hanya dalam semalam."
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...