TKI Dianiaya Sampai Gila di Malaysia !

Kekerasan terhadap pekerja asal Indonesia di Malaysia tak kunjung berhenti. Kali ini korbannya Ida Suhaini (25), asal Desa Ambawang Kuala, Kecamatan Sungai Ambawang, Kubu Raya, Kalimantan Barat.

Ida yang berangkat dalam kondisi fisik prima, kini sangat mengenaskan. Kekerasan fisik yang kerap dialaminya membuat dia tak hanya tulang berbalut kulit tapi juga sampai lupa ingatan. Hasinah (60), ibunda Ida mengungkapkan, saat pulang ke rumah Selasa 3 Agustus 2010 lalu, Ida terlihat lemah. Tetapi dia masih sempat menuturkan peristiwa yang dialaminya di Malaysia.

Selama bekerja di Malaysia, Ida mengaku menjadi sasaran siksaan majikannya. Kepala dan seluruh tubuhnya tidak ada yang luput dari pukulan balok kayu. Bekas pukulan di kepala Ida masih terlihat jelas. "Anak saya ini bekerja di Miri, Malaysia sebagai pembantu rumah tangga enam tahun yang lalu. Dia diajak temannya pergi ke Malaysia," kata Hasinah saat ditemui di rumahnya.

Saat itu semua urusan surat menyurat (paspor) sudah ada yang menanggung. "Pokoknya anak saya itu hanya tahu beres aja. Siapa nama majikannya pun anak saya tak tahu secara persis. Eh… pulangnya dia malah menjadi gila," kata Hanisah sambil menahan isak tangis, Sabtu 7 Agustus 2010.

Selama di Malaysia, Ida mengaku hanya diberi makan nasi yang dicampur dengan garam. "Jika menolak akan terus dipaksa sampai mau," ujar Hanisah seraya menambahkan Ida tiba di rumahnya empat hari lalu. Majikannya sempat mengantarkan Ida sampai terminal bis Kuching, Malaysia. Ida diantar naik bus menuju Kubu Raya. "Tapi hanya sampai situ. Ida juga tak bawa gajinya sama sekali," kata Hasinah.

Yang membuat Hasinah sedih, sejak tiga hari lalu, perilaku anaknya mulai berubah. Lebih banyak bengong. Pandangan matanya kosong dan takut bertemu orang. Jika ada orang, Ida langsung menghindar sambil gemetar ketakutan. Ida juga sering marah-marah tanpa alasan jelas.

Hanisah menuturkan, berbagai cara sudah dilakukan untuk menyembuhkan anaknya, mulai dari pemeriksaan ke Rumah Sakit Jiwa di Pontianak sampai pengobatan ke orang-orang pintar atau dukun kampung . Namun, usaha itu selalu gagal. "Siapa coba yang tega melihat anaknya gila. Saya bingung harus mengadu ke mana lagi, sementara uang saya sudah habis untuk mengobati anak saya itu. Saya sampai jual Kambing," kata Hanisah lirih.

Sumber : http://adf.ly/4uxa
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...