Dari Seorang Waitress Menjadi CEO Terkemuka


KESUKSESAN tidak diraih secara cuma-cuma. Kesuksesan haruslah diperjuangkan. Begitulah pelajaran hidup yang bisa dipetik dari Brenda C Barnes, CEO salah satu perusahaan consumer goods terkemuka, Sara Lee.

Tumbuh dan berkembang dari sebuah keluarga di Chicago, Barnes mendapat nilai-nilai kehidupan yang luar biasa dari kedua orangtuanya sejak kecil. Mereka mengajarkan banyak hal terkait nilai hidup, termasuk sikap rendah hati.

"Kedua orangtua saya mengajarkan saya kerja keras, mau mendengarkan orang lain, dan banyak nilai lainnya yang mereka katakan dan amalkan. Nilai-nilai dasar itu membantu saya menjadi luar biasa," kenang Barnes.

Selain nilai hidup tersebut, kedua orangtua Barnes juga menganggap penting arti pendidikan. Bernes meraih gelar undergraduate-nya di bidang bisnis dan ekonomi dari Rockford, Illinois Augustana College, pada 1975. Setelah lulus, tak banyak peluang kerja yang bisa didapatkan. Alhasil, sambil mencari prospek pekerjaan yang lebih menarik, Barnes pun rela melakukan pekerjaan apa saja. Mulai menjadi waitress, penyortir surat di kantor pos, dan penjual pakaian.

Dari sana, Barnes akhirnya bisa mengawali karier profesionalnya di Pepsi Co Inc pada 1976 saat ditunjuk sebagai manajer bisnis di Wilson Sporting Goods, satu dari beberapa anak perusahaan Pepsi. Tak mudah menjalankan pekerjaannya di sana. Kala diskriminasi gender masih sangat kental waktu itu, Barnes berjuang keras untuk berkompetisi dengan kebanyakan karyawan laki-laki.

Kerja keras Barnes membuahkan hasil saat dia sukses menduduki jabatan sebagai kepala penjualan. Seiring karier yang mulai menanjak, Barnes pun meneruskan pendidikannya. Dia kemudian menempuh pendidikan di Loyola University. Dari sana, dia berhasil meraih gelar MBA pada 1978. Selepas meraih gelar MBA-nya, karier Barnes tambah cemerlang. Pada 1981, dia dipindah ke anak perusahaan Pepsi lainnya, Frito-Lay.

Di sana dia ditunjuk sebagai wakil direktur pemasaran. Hanya bertahan tiga tahun, Barnes di pindah lagi ke Pepsi pusat. Pada 1988 Barnes diangkat menjadi wakil presiden penjualan nasional dan pemasaran Pepsi. Pada Januari 1992, Barnes diangkat sebagai Presiden Pepsi-Cola South.

Di jabatan barunya ini, dia bertanggung jawab mengontrol semua kegiatan manufaktur, penjualan, dan distribusi produk Pepsi di 13 negara yang berada di wilayah selatan Amerika. Loncatan karier Barnes mencapai puncaknya di Pepsi pada 1996 saat ditunjuk sebagai Presiden dan CEO Pepsi-Cola Amerika Utara.

Di bawah kepemimpinan Barnes, Pepsi-Cola Amerika Utara sukses meraih penjualan dan keuntungan besar. Barnes dikenal sebagai pemimpin yang mampu membangun identitas merek dagangnya. Pada 1996, perusahaan meraih penjualan USD7,73 miliar dan meraup untung hingga USD1,43 miliar.

Namun, di puncak kesuksesannya tersebut, sebuah keputusan mengejutkan justru dibuat Barnes. Setelah mengingatkan pemimpin perusahaannya bahwa jabatannya di pos tersebut kemungkinan tak akan bertahan lama, dia mengundurkan diri pada 1997 dan secara resmi meninggalkan Pepsi pada akhir tahun.

Alasan pengunduran diri Barnes dari perusahaan yang telah dibelanya selama 22 tahun saat itu begitu sederhana, dia hanya ingin memiliki lebih banyak waktu dengan ketiga anaknya yang masih kecil, Jeff, Erin, dan Brian serta suaminya Randall Barness yang juga seorang eksekutif.

Saat menjabat di posisi terakhirnya di Pepsi, Barnes bekerja selama 70 jam dalam seminggu. Dia rata-rata bekerja hingga pukul 03.30 pagi. Pekerjaannya begitu menyita waktu. Belum lagi, dia juga kerap kali harus melakoni perjalanan bisnis.

"Tak ada alasan yang sangat penting yang membuat saya mengambil keputusan itu. Saya hanya tak memiliki banyak waktu bagi keluarga. Saya hanya punya sedikit sekali waktu dengan mereka dan suami saya. Saya hanya ingin mencurahkan 100% waktu saya untuk mereka," terang Barnes mengungkapkan alasan pengunduran dirinya.

Barnes mengakui, sehebat apa pun dia, tetap saja tidak akan mampu memperoleh dua hal sekaligus, yakni pekerjaannya di Pepsi dan keluarganya. Mundurnya Barnes, membuat Pepsi kehilangan. Melalui beragam cara, Pepsi menawarinya untuk kembali lagi dengan beberapa penawaran menarik, seperti dengan jadwal kerja yang lebih fleksibel, mengabaikan absensi, sedikit tanggung jawab, dan lain sebagainya.

Tapi, Barnes berkeras menolak. Keputusan menolak tawaran tersebut mengejutkan banyak perusahaan di Amerika. Tapi, dari sana, perusahaan-perusahaan di Amerika mulai tersadar untuk mengubah budaya perusahaan. Dari hanya sekadar mementingkan urusan pekerjaan, perusahaan di Negri Paman Sam itu mulai terbuka untuk mengakomodasi kepentingan pribadi, termasuk keluarga, dari individu-individu yang ada di dalamnya.

Perusahaan jadi arif dengan menerapkan keseimbangan karier dan kehidupan pribadi para karyawannya. Setelah tak lagi disibukkan dengan rutinitas kerja, Barnes menghabiskan waktunya dengan keluarga. Tidak hanya itu, dia juga belajar hal lain yang selama ini luput dia kuasai, memasak, meningkatkan keahlian komputernya, dan kegiatan positif lain. Pendeknya, Barnes seakan menjalani kehidupan lain dari yang selama ini digelutinya.

Tapi, entah memang pada dasarnya seorang wanita yang seolah memang ditakdirkan untuk menjadi seorang wanita karier, pada 2004 Barnes kembali ke dunia bisnis saat direkrut perusahaan manufaktur yang berbasis di Chicago, Sara Lee. Tapi, di tempat barunya ini, Barnes tak perlu berlama-lama meniti karir ke puncak.

Tak lama berkiprah di sana, pada Februari 2005, Barnes dipromosikan menjadi Presiden dan CEO Sara Lee. Prestasi dan kemampuan yang telah dipupuk sebelumnya serta merta diakui di tempat barunya. Barnes pun langsung membuktikan kemampuannya. Dia langsung mengadakan perubahan besar sesaat setelah menduduki jabatannya. Salah satunya adalah dengan membuat Sara Lee fokus kepada bisnis makanan, minuman, kebutuhan rumah tangga, dan perawatan tubuh. Bisnis sandang yang juga sejak lama digeluti Sara Lee dihilangkan saat kepemimpinan Barnes.

Awalnya, penjualan atau spin off bisnis sandang agar Sara Lee lebih fokus ke bisnis barang-barang konsumsi disambut negatif pelaku pasar dan pengamat. Barnes mengaku, saat itu adalah waktu-waktu terberatnya di Sara Lee. Namun, perubahan besar yang dilakukannya pada akhirnya memberikan efek positif. Produk-produk andalan Sara Lee seperti, Ambi Pur, Jimmy Dean, Kiwi, Sanex, termasuk roti Sara Lee kini mampu menguasai pasar Eropa dan juga Asia. Sara Lee pun berkembang pesat menjadi perusahaan barangbarang konsumsi terkemuka.

"Saya hanya ingin menunjukkan bahwa perempuan pun bisa memimpin perusahaan dengan baik," ujar Barnes.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...