Demi Cincin, Jari Nenek Dipotong !

Korban Akhirnya TewasPelaku Diduga Penghuni Kos

Perilaku kejahatan di Surabaya makin memprihatinkan saja. Bayangkan,
hanya karena mengincar cincin yang beratnya tidak seberapa, seorang
pelaku kejahatan tega memotong jari korbannya.
Peristiwa tragis itu dialami seorang nenek, Zaridah Surip Kartono, 70,
warga Jl Jedong 64 RT2 RW 2 Tambaksari. Nenek dua cucu ini ditemukan
tewas bersimbah darah di rumahnya, Kamis (25/3), dengan luka parah di
bagian kepala serta jari tangan kirinya dalam keadaan terpotong.

"Potongan jarinya sudah kita temukan," kata Kasat Reskrim Polres
Surabaya Timur AKP Hartoyo di lokasi kejadian. Diduga kuat pelaku
sengaja menebas jari manis korban setelah kesulitan melepas cincin
yang melingkar di jari sang nenek.

Kejadian pembunuhan yang menggemparkan warga Jedong ini pertama kali
diketahui oleh Oktavia Wulansari, 15, cucu korban yang saat itu baru
pulang sekolah sekitar pukul 12.00 WIB.

Wulan yang masuk rumah dan memanggil neneknya, spontan kaget ketika
melihat neneknya telentang bersimbah darah. "Saya langsung keluar
berteriak minta tolong," kata Oktavia Wulansari.

Korban ditemukan telentang di lantai ruang tengah dengan posisi kepala
di bagian utara. Diduga korban dihabisi setelah keluar dari kamar
mandi, karena saat ditemukan tewas, korban mengenakan pakaian tidak
lengkap.

Warga yang kemudian berdatangan ke rumah ini, di antaranya ada yang
menghubungi polisi. Tak berapa lama, petugas dari Polres Surabaya
Timur datang untuk melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP).
Sejumlah dokter dari RSU Dr Soetomo juga datang untuk memeriksa
jenazah.

Dari pemeriksaan itu, petugas mendapati beberapa barang berharga milik
korban antara lain sejumlah perhiasan raib, termasuk cincin di jari
korban. "Ada anting-anting milik cucu korban hilang, cincin dan uang
milik korban juga hilang," kata AKP Hartoyo.

Rumah yang ditempati korban dan anak menantunya berikut kedua cucunya
ini juga dibuat kos-kosan. Ada dua kamar yang dikoskan, yang satu
kamar ditempati pasangan suami istri (pasutri) yang saat kejadian
sedang tidak berada di tempat, dan satu kamar lagi ditempati Maya yang
berusia sekitar 30 tahunan.

Menurut penuturan Ervianto, anak menantu korban, Maya baru sepuluh
hari kos di rumah itu. Maya juga belum menyerahkan bukti identitasnya.
Menurut Ervianto, beberapa kali diminta identitasnya, Maya yang
informasinya pekerja malam ini selalu berbelit-belit alasannya. "Kalau
ditanya jawabnya selalu `nanti, nanti`. Katanya dia berasal dari
Madura," ujar Ervianto, suami Erni, anak pertama korban yang tidak
tinggal di rumah itu.

Sebelum kejadian pembunuhan itu, Kamis paginya Ervianto sempat melihat
Maya terlibat cekcok mulut dengan korban. "Saya tidak tahu pasti, tapi
tadi pagi Maya cekcok dengan ibu," jelasnya.

Menurutnya, ibu mertuanya itu menasihati agar korban tidak terlalu
sering pulang malam. "Mungkin dia (Maya) sering pulang malam, terus
banyak tetangga yang ngomong ke ibu, jadi diingatkan," tambahnya.

Sebelumnya, kata Ervianto, ia juga melihat Maya kerap cekcok dengan
ibu mertuanya itu. Hingga pernah suatu kali Ervianto menyuruh Maya
keluar saja dari tempat kos. Ervianto juga mengungkapkan, sejak Maya
kos di rumah, sejumlah barang kerap hilang. Yang hilang antara lain
anting-anting milik anaknya, Oktavia, juga uang untuk beli elpiji yang
diletakkan di atas meja. "Ada uang di dalam tabungan, jumlahnya berapa
saya lupa, juga hilang," katanya.

Pacar Penghuni Kos

Polisi yang mendapat keterangan Ervianto, ditambah hasil olah TKP,
sementara menduga Maya sebagai pelaku pencurian dan kekerasan hingga
menyebabkan korban tewas. "Dari pemeriksaan saksi dan olah TKP, memang
mengarah kepada Maya sebagai pelaku. Sekarang masih kita dalami antara
lain dengan meminta keterangan semua saksi," ujar AKP Hartoyo.

Selain Ervianto, polisi juga meminta keterangan anak kedua korban,
Diah, yang tak lain adik Erni.

Sumber di kepolisian mengungkapkan, selain memburu Maya, petugas juga
mengejar seorang laki-laki yang diduga sebagai pacar Maya. Pria ini
diketahui datang ke tempat kos Maya sekitar pukul 10.00 WIB, Kamis
(25/3), mengendarai sepeda motor Yamaha Mio warna merah. Pria ini
selanjutnya masuk ke dalam rumah yang saat itu hanya ada Maya dan
korban.

Tak berapa lama, pria yang mengenakan helm teropong ini kemudian
keluar rumah bersama Maya dan membawa bungkusan kardus dan sebuah tas
besar. "Siapa pria ini, itu yang sedang kita dalami dan kita kejar,"
kata petugas di lokasi kejadian.

Terkait kronologi kekerasan, diduga kuat korban yang keluar dari kamar
mandi itu dipukul dengan pompa angin pada kepala bagian belakang.
Dugaan itu dikuatkan dengan ditemukannya pompa angin tak jauh dari
posisi korban saat ditemukan tewas. "Di bagian kepala dan hidung
korban terus keluar darah, itu yang menyebabkan korban tewas," jelas
Hartoyo.

Selain barang bukti pompa angin, petugas juga mendapatkan sidik jari
yang diduga milik pelaku. Saat dilakukan pemeriksaan, sidik jari yang
tertinggal itu kelihatan tipis dan diperkirakan pelaku saat itu
tergesa-gesa untuk kabur. "Mudah-mudahan dari sejumlah keterangan dan
pemeriksaan ini, pelaku segera bisa terungkap," harap AKP Hartoyo.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...