Japan Airlines gusar seragam pramugari dijual di pasar gelap

Japan Airlines (JAL) memperingatkan semua stafnya untuk tidak menjual
seragam mereka, di tengah kekhawatiran para pramugari akan menjual
seragamnya melalui lelang internet untuk memperoleh tambahan
pendapatan.

Maskapai penerbangan terbesar di Asia itu dinyatakan pailit pada bulan
Januari lalu dan kini tengah berjuang memperbaiki kondisi keuangan dan
citra perusahaan. Sebagai bagian dari perbaikan tersebut, JAL
menerapkan kebijakan pemotongan gaji dan bonus, serta rencana
perumahan bagi sekitar 1.300 pramugari pada akhir Maret ini.

JAL pun berusaha mengambil langkah pencegahan terhadap karyawan agar
tidak menjual seragam di pasar gelap. Penjualan seragam itu,
dikhawatirkan akan menambah buruk citra perusahaan yang tengah
dibangun kembali.

Seragam versi awal JAL dirancang oleh perancang busana ternama Jepang,
Hanae Mori, dan sangat populer di kalangan para kolektor seragam
sehingga dihargai tinggi pada situs lelang. Sebuah jaket dihargai
beberapa ratus pound, sementara salah satu situs memajang seragam
lengkap yang dibanderol £ 2.000 atau sekitar Rp27,8 juta.

"Kami memiliki aturan sangat ketat pada seragam kami dan ketika
orang-orang meninggalkan perusahaan mereka diwajibkan untuk
memulangkan mereka," kata seorang juru bicara JAL kepada The Daily
Telegraph, Rabu (3/3). "Ini masalah keamanan, karena orang yang
mengenakan seragam JAL di bandara dapat dengan mudah mengakses daerah
terlarang, kami juga tidak ingin orang keliru menilai perusahaan atau
merusak citra kita dengan cara apapun".

Untuk pengamanan, setiap bagian dari seragam JAL memiliki nomor seri
yang dijahit di dalamnya. Selain itu, maskapai nasional Jepang itu
mengancam para pramugari yang menjual seragamnya akan disamakan dengan
melakukan pencurian.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...