Polisi Tidur Aneh Ditemukan di Tangerang !

Gambar ilustrasi

Berikut adalah keluhan yang didapati dari kiriman email seseorang yang
merasa kesal dengan keberadaan polisi tidur tsb...... benar tidaknya
masih perlu ditinjau lagi.

Setahu saya, sebutan polisi itu dimiliki oleh tiga item. Yang pertama
adalah polisi sungguhan yang lengkap dengan berbagai tugas dan fungsi
pokoknya, kedua polisi cepek atau pak ogah sebutan seseorang yang
mengatur kendaraan berputar arah kemudian minta uang jasa, dan ketiga
polisi tidur, kira-kira artinya Alat Pembatas Kecepatan adalah bagian
jalan yang ditinggikan berupa tambahan aspal atau semen yang dipasang
melintang di jalan untuk pertanda memperlambat laju/kecepatan
kendaraan.

Untuk jenis polisi pertama, sudah jelas tugasnya, diantaranya
mengayomi dan melindungi masyarakat. Untuk polisi kedua, meskipun suka
minta lembaran Rp1.000 tapi gak masalah karena dia sudah memberi jasa
ke kita dengan mempersilakan kendaraan kita berputar arah. Nah untuk
jenis polisi ketiga alias polisi tidur, sulit untuk diterima
kehadirannya, apapun alasan kehadirannya.

Gara-gara polisi tidur ini, setiap kali saya lewat jalan Japos yang
menghubungkan pondok aren dan cileduk, saya sering dibikin kesel-kesel
dan uring-uringan gak jelas. Saya kira, kehadirannya tidak banyak
memberi maslahat bagi masyarakat pengguna jalan raya. Meskipun niat
dihadirkannya polisi tidur untuk mencegah masalah, tapi bagi saya akan
menimbulkan masalah baru.

Sebab, dari pengamatan saya, polisi jejadian yang sengaja dibuat warga
setempat itu kira-kira sebagai berikut:

1. Ketinggian polisi tidur bisa mencapai 10 cm
2. Dalam satu wilayah bisa mencapai 5 polisi tidur
3. Jarak dari satu polisi tidur ke polisi tidur lainnya sekitar 5 meter
4. Keberadaan polisi tidur bisa membahayakan pengguna jalan
5. Keberadaan polisi tidur bisa berdampak menimbulkan penyakit

Menurut kang wiki polisi tidur akan menyeybabkan beban dan berat tubuh
bagian atas akan membuat stres signifikan pada struktur tubuh yang
rendah dibagian punggung, terutama pada disk antara lumbalis kelima
dan vertebra sakral pertama yang dikenal sebagai L5/S1 lumbosacral
disc atau dengan perhitungan ( (moments at the L5/S1 disc) = 0 ) atau
pengangkatan beban dengan berat beban tubuh bagian atas
(Mload-to-torso = Wload* h + Wtorso*b} yang dapat menyebabkan adanya
resiko cidera [1]atau berisiko tinggi bagi para penderita osteoporosis

Saya memahami, niat pembuatan polisi tidur itu untuk menghindari
kecelakaan warga setempat karena aksi ugal-ugalan pengendara. Tapi di
lain pihak, tidak sedikit pengendara yang jatuh akibat polisi tidur
yang banyak dan lumayan tinggi pula. Candaan saya ke istri waktu
melintas di jalur itu, kalau suatu saat istriku hamil tua, kita tak
perlu lagi ke RS Bersalin, cukup lewat jalur itu, jabang bayi dijamin
merojol.

Dalam satu waktu saya kasihan juga liat ibu-ibu dengan badan subur
yang dibonceng mungkin oleh anaknya, tersungkur dari motornya. Mungkin
dikira polisi tidur hanya satu, begitu selesai melewati satu polisi
tidur, si pengendara itu langsung tancap gas. Alamak begitu menghantam
polisi tidur yang kedua, si ibu-ibu dengan tubuh subur itu
terpelanting dan tersungkur ke tanah.

Sampe detik ini saya belum tahu prosedur pembuatan polisi tidur itu.
Apakah harus ada izin resmi dari dinas perhubungan setempat atau
dibebaskan saja sesuai selera warga setempat yang seolah-olah memiliki
jalan umum itu. Tapi dari beberapa kali saya amati dan menangkap basah
warga sedang asyik membuat polisi tidur di tepat depan rumahnya, jadi
rasa-rasanya pembuatan polisi tidur itu dibebaskan saja senaknya udel
sendiri.

Gak kebayang bukan kalau semua warga yang rumahnya di pinggir jalan
dan berfikir untuk membuat polisi tidur di depan rumahnya…

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...