Waspadalah Terhadap Supir Angkot Seperti Ini !


Contoh Sopir yang MUSTI kita hindari ( Artikel dari kiriman email )

based on my experience, of course.
Karena saya tidak hapal jalur angkutan kota, tentunya saya bertanya dahulu ketika saya menyetop sebuah angkutan.
"Ke terminal, Pak?" tanya saya.
Si sopir tidak serta merta menjawab.
"Masnya mau kemana?" ehh… malah nanya balik.
"Saya tanya, angkutan ini jurusan ke terminal atau tidak, Pak?" saya mulai merasa irritated.
Lalu saya menyebut tujuan saya.
"Udah naik aja, nanti saya carikan bus ke kota XXX," kilah si sopir.
Saya langsung menuruti. Dan inilah bodohnya saya (!)
Di dekat alun-alun, si sopir memasang tarif kepada saya tidak seperti yang tertera di pintu angkutan. Kalau memang tarif tersebut sudah kadaluarsa, saya tidak percaya. Sebab ibu yang di depan saya membayar sesuai dengan tarif yang tertera di pintu itu.
Dan yang menjengkelkan lagi, sopir (anjr*t) itu mengoper saya ke angkutan yang berbeda. Yang ternyata itu adalah angkutan yang menuju ke terminal.
Di dalam angkutan yang itu, saya tanya ke sopir "Tarifnya dalam kota berapa sih, Pak"
"Lha itu. Udah ada stikernya di pintu, Mas," jawab sopir.
"Kok tadi saya ditarik ga sebegitu?" saya mulai gusar.
"Yang bener, Mas?" sopir ga percaya.
"Kalau saya ditarik sesuai dengan tarif, saya ga bakal tanya, Pak!" seketika kesal mulai melanda.
Udah dioper, suruh bayar lebih.
"Sebenernya saya juga ga mau kalo dioper saya dia (sopir kad*l), Mas. Sopir-sopir yang lain juga udah tau wataknya. Kita udah ga mau sebenernya, biar dia kapok. Tapi dianya yang tetep begitu," sopir itu memberi penjelasan.
"Coba kalau saya bisa menghubungi juragannya, saya suruh pecat tu sopir," sahut saya.
"Enaknya Mas bisa langsung dapat angkutan," kilah sopir yang terkesan membela rekan seprofesinya.
"Saya tu orangnya simpel, Pak. Tadi saya tanya, ke terminal atau tidak. Tinggal jawab aja ya atau tidak, kok sulit amat. Lagian saya juga tidak buru-buru," jawab saya berargumen.

Dan pengalaman saya ini, MUSTI saya share pada teman-teman pembaca, bahwa:
Saat kita tidak pasti tujuan sebuah angkot/transportasi umum, kalau kita lupa tanya pada orang sekitar sebelumnya, TETAPLAH KEUKEUH bertanya apakah angkot/transportasi umum tersebut sesuai dengan tujuan yang kita kehendaki. Bila terjadi gelagat seperti yang saya alami diatas, mending tidak usah naik.
Coba kalau kejadian tersebut terjadi di kota asal saya, sudah serta merta saya cari siapa juragannya. Kalau perlu, pake jalur koneksi ke teman-teman disana.
Sopir seperti itu patut dikasih pelajaran.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...